Iman kepada Allah #2
Seorang muslim meyakini bahwa rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah Ta‘ala. Keimanan ini tidak hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Rasa takut (khauf), Cinta(mahabbah) harap (raja’), kemudia juga menghasilkan pengagungan (ta‘zhim) kepada Allah Ta'ala tercermin dalam sikap dan perilaku seorang mukmin. Seorang muslim yang baik imannya kepada Allah Ta‘ala tidak menyimpan keraguan sedikit pun di dalam hatinya terhadap Rabb-nya.
Termasuk bagian dari iman kepada Allah Ta‘ala adalah mengimani keberadaan dan wujud Allah Ta‘ala. Seorang muslim yang benar akan merujuk kepada sumber yang benar dalam masalah akidah, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, serta memahami penjelasan para ulama terdahulu dalam menerangkannya.
Keberadaan Allah Ta‘ala
Tentang keberadaan Allah Ta‘ala, Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menjelaskannya dengan sangat terang. Allah Ta‘ala berfirman:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
“Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Al-A‘rāf: 54)
Imam Abul Hasan Al-Asy‘ari رحمه الله berkata:
“Allah berada di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Dia firmankan, dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, bukan seperti makhluk.”
(Al-Ibānah ‘an Ushūl ad-Diyānah)
Imam Malik رحمه الله berkata:
“Al-istiwa’ itu maknanya diketahui, caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan menanyakannya adalah bid‘ah.”
Pada ayat yang lain Allah Ta‘ala berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha: 5)
Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata:
“Ahlus Sunnah sepakat bahwa Allah berada di atas langit-langit-Nya dan di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”
(Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffār)
Ini menunjukkan bahwa Allah Ta‘ala bersemayam di atas ‘Arsy dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.
Wujud Allah Ta‘ala
Mengimani Allah juga berarti meyakini bahwa Allah Ta‘ala itu benar-benar ada. Keberadaan-Nya ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah Ta‘ala berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus.”
(QS. Al-Baqarah: 255)
Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:
“Ayat ini menetapkan bahwa Allah ada dengan zat-Nya, hidup secara sempurna, tidak bergantung kepada apa pun, sedangkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.”
Ini menegaskan bahwa wujud Allah itu hakiki, bukan sekadar konsep atau khayalan.
Allah Ta‘ala juga berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha: 5)
Imam Malik رحمه الله berkata:
“Al-istiwa’ itu maknanya diketahui, caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan menanyakannya bid‘ah.”
Artinya, Allah Ta‘ala benar-benar ada dan bersemayam di atas ‘Arsy, dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, bukan berada di mana-mana.
Penutup
Penjelasan singkat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah Ta‘ala itu ada dan berada di atas ‘Arsy, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma‘ (konsensus) ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.
Bidang Dakwah
Yayasan Baiturrahman Prambanan